Diah Blog's

Rabu, 15 April 2009

Cegah Osteoporosis Sebelum Terlambat.



Osteoporosis atau keropos tulang sering disebut "silent disease" atau si pencuri tulang. Hal ini disebabkan karena pada saat pengeroposan tulang terjadi sering tanpa keluhan yang nyata. Menurut dr H Kgs Junaidi AR SpPD, pada umumnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala-gejala klinis, kecuali bila telah terjadi fraktur osteoporosis. Adanya fraktur osteoporosis ini sebenarnya merupakan tanda peringatan yang sudah agak terlambat.

"Setelah fraktur seringkali kesehatan pasien mundur dengan drastis. Sehingga akan lebih bermanfaat bila kita dapat mendiagnosis dini osteoporosis," ujar dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Pelabuhan Boom Baru Palembang ini. Ada beberapa faktor risiko yang sebenarnya merupakan peringatan penting, mengarah pada diagnosis osteoporosis. Faktor itu antara lain etnik Caucasia, Asia, asupan kalsium yang rendah, kurus, gaya hidup dengan aktivitas fisik kurang, gangguan fungsi gonad, obat khususnya kortikosteroid dan penyakit kronik immobilitsassi.

"Selain itu faktor lainnya seperti perokok, post reseksi usus, riwayat keluarga dengan fraktur osteoporotik, latake Na, kafein, protein yang berlebihan dalam waktu lama," jelasnya. Junaidi mengatakan, mengingat osteoporosis tanpa gejala sering kali osteoporosis ditetapkan agak terlambat. Adanya tinggi badan yang makin memendek dan perubahan postur tubuh yang makin membungkuk dapat merupakan gejala osteoporosis yang sudah agak lanjut.

"Kadang-kadang dapat juga dijumpai adanya deformitas pada tulang belakang. Penderita mengalami benturan yang mengakibatkan tulangnya langsung patah. Dengan begitu tulang vertebrata langsung bengkok dan si penderita langsung merasakan nyeri punggung," jelasnya. Berdasarkan WHO 1994, osteoporosis adalah suatu nilai densitas massa tulang (bone mass density = BMD) dibawah 2,5 standar deviasi atau lebih dibandingkan dengan nilai rata-rata BMD perempuan dewasa muda. Sedangkan nilai BMD diantara -1,5 sampai -2,5 standar deviasi disebut sebagai osteopenia.

"Umur merupakan faktor yang penting dalam menentukan densitas massa tulang. Resiko untuk BMD yang rendah dan osteoporosis meningkat secara eksponensial sesuai dengan umur baik pada perempuan maupun laki-laki," tuturnya.

Defesiensi estrogen dan testoteron sangat berperan terjadinya osteoporosis pada perempuan pasca enopause dan laki-laki pada usia lanjut. Prevalensi fraktur osteoporosis laki-laki tidak tinggi setinggi perempuan.

Junaidi menjelaskan, diagnosis osteoporosis tentunya ditetapkan dengan melakukan pengukuran langsung terhadap massa tulang dengan densitometer. Densitometer tulang merupakan pemeriksaan yang akurat untuk menilai sedimikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menetapkan diagnosis, faktor prognosis dan prediksi fraktur osteoporosis. "Pemeriksaan radiologik atau foto tulang tidak sensitif untuk mendiagnosis osteoporosis. Pemeriksaan radiologik pada tulang belakang sangat baik untuk mencari fraktur kompreasi, fraktur baji atau fraktur bikonkf," unkapnya.

Pencegahan osteoporosis sangat penting mengingat pengobatan seringkali membutuhkan biaya yang sangat mahal. Upaya pencegahan ini sebaiknya dimulai dengan menabung tulang sejak kecil atau bahkan sejak masih dalam kandungan. "Asupan kalsium yang cukup 100 mg/hari untuk usia remaja dan 1500 mg/hari untuk usia lanjut. Perhatikan asupan vitamin D terutama bila kurang terpapar pada sinar matahari, latihan fisik teratur, semua itu merupakan beberapa hal upaya pencegahan osteoporosis," sarannya. Selain itu, hindari alkohol dan merokok, kenali resiko tinggi, dan perkecil kemungkinan jatuh juga merupakan upaya pencegahan penyakit ini.

Junaidi menjelaskan, diagnosis osteoporosis tentunya ditetapkan dengan melakukan pengukuran langsung terhadap massa tulang dengan densitometer. Densitometer tulang merupakan pemeriksaan yang akurat untuk menilai densitas massa tulang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menetapkan diagnosis, faktor prognosis dan prediksi fraktur osteoporosis. "Pemeriksaan radiologik atau foto tulang tidak sensitif untuk mendiagnosis osteoporosis. Pemeriksaan radiologik pada tulang belakang sangat baik untuk mencari fraktur kompreasi, fraktur baji atau fraktur bikonkf," ungkapnya.

Pencegahan osteoporosis sangat penting mengingat pengobatan seringkali membutuhkan biaya yang sangat mahal. Upaya pencegahan ini sebaiknya dimulai dengan menabung tulang sejak kecil atau bahkan sejak masih dalam kandungan. "Asupan kalsium yang cukup 100 mg/hari untuk usia remaja dan 1500 mg/hari untuk usia lanjut. Perhatikan asupan vitamin D terutama bila kurang terpapar pada sinar matahari, latihan fisik yang teratur, semua itu merupakan beberapa hal upaya pencegahan osteoporosis," sarannya. Selain itu, hindari alkohol dan merokok, kenali resiko tinggi, dan perkecil kemungkinan jatuh juga merupakan upaya pencegahan penyakit ini. (21)

0 komentar:

Posting Komentar