
Pernahkah merasakan kantuk berlebih pada siang hari, padahal tidur ketika malam?. Bila kondisi begitu sering terjadi, biasanya disertai dengan sulit berkonsentrasi, sering lupa, sakit kepala, dan mudah marah, bisa jadi Anda mengalami gangguan tidur yang disebut Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau henti nafas saat tidur. "Penyakit itu terjadi karena saluran nafas tertutup lebih dari sepuluh detik saat tidur," ungkap Dr Wiyono Hadi SpTHT, Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok Rs PHC Surabaya.
Penderita OSA biasanya tidak menyadari penyakit tersebut. Sebab gangguan tersebut terjadi saat penderita sedang tidur. Jadi, dia tahu tidur seperti biasa. Hanya, dia sering tetap ngantuk saat siang. Salah satu cara untuk mengetahui gangguan tersebut adalah bertanya kepada orang lain, Anda mendengkur atau tidak saat tidur. Menurut Wiyono, gejala yang mudah diketahui dari penyakit tersebut memang mendengkur saat tidur. Meskipun tidak semua orang yang mendengkur mengidap sleep apnea.
"Volume dengkur penderita biasanya tinggi, bahkan sering terbangun karena tersedak atau batuk-batuk," tambahnya. Kalau gejala itu ditemukan, dianjurkan periksa ke dokter. Kalau perlu, Anda harus melakukan pemeriksaan polisomnografi dilaboratorium tidur. Polisomnografi, papar Wiyono, menjadi standar dalam mendiagnosis OSA. Alat yang dipasang saat tidur itu meliputi perekam aliran udara nafas, gerakan nafas, EEG, EMG, EOG, EKG, saluran oksigen, dan posisi badan. Idealnya, polisomnografi dilakukan dalam sebuah laboratorium tidur selama semalam penuh dan dipantau dokter/perawat.
"Hasil yang muncul adalah jumlah henti nafas tiap jam dan kadar oksigen dalam darah. Dengan begitu, diketahui pasien mengidap OSA atau tidak," jelas Wiyono. Alternatif lain adalah apnea screening yang lebih murah. Namun, pemeriksaan itu kurang lengkap. Sehingga, pada beberapa kasus, pasien akhirnya harus diperiksa lagi dengan polisomnografi. Wiyono menambahkan, dua tahun terakhir, kian banyak rumah sakit di Indonesia yang membeli polisomnografi. Sebab, pasien makin tahu tentang OSA dan dampaknya atas aktifitas penderita. "Penderita OSA selalu kurang tidur meski tidur cukup lama. Sebab, proses tidurnya terpotong-potong akibat periode henti nafas yang berkali-kali terjadi," terangnya.
Karena kondisi tersebut, penderita OSA dua kali lebih berisiko mengalami kecelakaan kerja atau lalu lintas. Studi lain bahkan menyatakan OSA sebagai salah satu kriteria untuk mengatakan seseorang tiak mampu bekerja. "Penderita OSA kadang memang tidak berani lagi berkendaraan karena dianggap punya hobi nabrak," ucap dia. Banyak juga penderita yang di cap sebagai pemalas akibat kantuk berlebihan yang mendera. Wiyono mengingatkan, OSA bisa berdampak serius atas kesehatan penderita. Misalnya, bisa memicu hipertensi, penyakit jantung, stroke, diabetes, impotensi, dan kematian mendadak. "Sekedar contoh, gangguan nafas saat tidur itu bisa membuat kandungan oksigen darah turun. Kondisi tersebut bisa mengakibatkan resistensi insulin. Kalau itu terjadi, penderita rawan diabetes," bebernya.
Umumnya, lanjut Wiyono, pembuntuan saluran nafas pada penderita OSA disebabkan kelainan anatomi. Misalnya, jaringan langit-langit lunak terlalu lunak, lidah besar, dan tulang hidung membuntu, atau amandel dan adenoid membesar. Faktor lain, diantaranya, kelebihan berat badan, konsumsi alkohol, dan merokok. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalami OSA. Umumnya OSA pada anak-anak disebabkan amandel dan adenoid yang membesar. Kondisi ini membuat pasokan oksigen berkurang pada malam hari. Dampaknya, anak cenderung mengalami gangguan perilaku, sulit berkonsentrasi, hingga prestasi sekolah menurun," ungkapnya. (dio/sio)
Posted by
0 komentar:
Posting Komentar