
JANGAN sepelekan kebutuhan tidur, terutama pada anak. Karena, saat tidur pertumbuhan otak anak khususnya balita (bayi di bawah lima tahun) mencapai puncaknya. Otak juga mengonsolidasikan segala memori dan pengetahuan baru. Menurut Dr Liniyanti D Oswari MNS MSc, dosen biokimia FK Unsri pada seminar gaya hidup sehat beberapa waktu lalu, masalah gangguan tidur tak hanya terjadi di Indonesia, tapi diseluruh negara seperti Beijing, Cina dan lain-lain. Anak dikatakan mengalami gangguan tidur jika pada malam hari tidurnya kurang nyenyak, selalu rewel, dan menangis.
"Namun sayang, banyak orangtua yang belum menyadari bahwa tidur berkualitas merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan anaknya," ujarnya. Liniyanti sapaan akrab perempuan ini mengatakan, besaran jumlah jam tidur anak, disesuaikan dengan tingkatan umurnya. Untuk bayi baru lahir biasanya tidur selama 16-20 jam perhari. Bayi usia 2-12 bulan jumlah waktu tidurnya mencapai 9-12 jam pada malam hari dengan tidur siang 1-4 kali sehari.
Sedangkan anak usia 12 bulan sampai 3 tahun, biasanya tidur 12-13 jam sehari dengan rata-rata tidur siang satu kali saja. Kalau anak berusia 6 tahun membutuhkan tidur 10 jam perhari dan biasanya anak usia ini dapat tidak membutuhkan tidur siang lagi. "Lalu untuk anak remaja yakni usia 12 tahun keatas memerlukan sekitar 9 jam untuk tidur atau istirahat. Perlu diingat orang yang tidur 8 sampai 9 jam semalam mempunyai hasil kerja jauh lebih baik daripada orang-orang yang tidur kurang atau lebih dari 9 jam," ungkapnya.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas tidur anak. Faktor pertama terkait dengan masalah fisik seperti rasa lapar dan haus serta adanya gangguan pada gigi, telinga, kulit, saluran cerna, saluran napas, saluran kemih, otot atau tulangnya. "Makanan dan minuman juga berpengaruh. Bayi lebih gampang tidur dalam keadaan kenyang. Dan jenis makanan atau minuman tertentu, konsumsi obat-obatan tertentu seperti obat asma juga mempengaruhi tidur balita," ujarnya seraya menambahkan faktor lainnya adalah masalah psikis terkait dengan tahapan perkembangan anak, pola asuh, temperamen, aktivitas dan faktor lingkungan. Sementara itu pada orang dewasa, katanya ada beberapa tanda jika ha kekurangan tidur. Antara lain adanya gangguan emosi. Dimana emosi orang yang kurang tidur akan semakin tinggi," ujar Yanti sapaan akrab perempuan ini.
Selain gangguan emosi, katanya tanda lainnya jika seseorang kekurangan tidur yaitu tungkai kaki keram, dan bicara yang tidak teratur. Kemudian tanda lainnya berupa ketidakmampuan mata fokus dan kepribadian yang kacau. "Untuk mengatasi masalah tidur ini adalah baiknya mulai dari sekarang kita harus memperhatikan kebutuhan tidur atau istirahat. Perlu diingat juga bagi mereka yang ada gangguan tidur sebaiknya tidak mengonsumsi kopi, coklat, dan teh. Yang terpenting lagi jangan tidur siang," sarannya.
Tak hanya memperhatikan kebutuhan tidur, ada baiknya seseorang perlu berlibur bersama keluarga. Ini dimaksudkan untuk menyegarkan dari pekerjaan dan tugas rutin. Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan tidur, terutama pada anak. Salah satunya dengan memperhatikan kondisi kenyamanan ruang tidur anak. Orangtua, lanjutnya juga harus mengenali atau mengidentifikasi serta mengatasi gangguan fisik dan psikis pada bayi dan balita. Lalu pastikan kenyamanan ruang tidur atau lingkungan tidur bayi atau balita.
"Dengan ventilasi yang baik dan suhu udara yang sesuai, dan suasana tenang anak akan merasa nyaman dan nyenyak untuk tidur," bebernya. Kemudian, pastikan juga bayi diantar tidur pada keadaan perut kenyang dan tubuh bersih. Perkenalkan kebiasaan tidur yang baik sejak dini, dengan menerapkan rutinitas tidur secara konsisten dengan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. (21)
Sumber:
Sumatera Ekspres
Posted by
0 komentar:
Posting Komentar